Selain BYD, pabrikan asal China lain, seperti Chery, Geely, hingga Wuling juga memainkan peran besar di dunia mobil listrik global. Tak mengherankan kalau China kemudian dianggap sebagai pemimpin di industri kendaraan listrik.
Ungkapan ini tak berlebihan, sebab China menguasai kartu truf dalam industri ini, yakni logam tanah jarang. Logam satu ini memegang peranan besar dalam produksi komponen mobil motor listrik, mulai dari sistem pengereman cerdas, dan komponen elektronik presisi tinggi.
1. China menguasai rantai pasok logam tanah jarang

ilustrasi tambang (pexels.com/Tom Fisk)
Saat ini, China menguasai hampir seluruh rantai pasok logam tanah jarang dunia. Ini bukan hanya isu ekonomi, tapi juga strategi geopolitik yang membuat banyak negara penghasil mobil, seperti Amerika Serikat, Jerman, dan Jepang, merasa tidak nyaman. Ketergantungan yang begitu tinggi terhadap satu negara menciptakan potensi risiko besar bagi stabilitas produksi otomotif global. Mengapa logam tanah jarang begitu vital, dan bagaimana China bisa sampai sedominan itu? Mari kita bahas secara lebih mendalam.
Logam tanah jarang seperti neodymium, dysprosium, praseodymium, dan terbium adalah bahan utama dalam magnet permanen berperforma tinggi (NdFeB), yang menjadi jantung motor listrik dan banyak komponen otomotif lainnya—dari jendela otomatis hingga sensor ABS. Pada kendaraan listrik, satu unit EV saja bisa memuat 0,5 kg hingga 3 kg logam tanah jarang. Tanpa logam ini, motor yang ringan, efisien, dan bertenaga tinggi akan sulit direalisasikan.
2. Dunia sangat bergantung pada China

Ilustrasi pabrik mobil (freepik.com/usertrmk)
Saat ini China menguasai lebih dari 90 persen total produksi magnet dan logam tanah jarang dunia, bahkan mencapai 99,8 persen untuk logam tanah jarang berat (heavy REE). Dominasi ini bukanlah hasil kebetulan, melainkan buah dari strategi jangka panjang sejak 1980-an.
China secara agresif membangun ekosistem tambang, fasilitas pemurnian, dan industri pengolahan, sementara negara lain justru menutup tambang karena alasan lingkungan dan biaya tinggi. Hasilnya: dunia kini sangat tergantung pada China untuk pasokan logam vital ini.
3. China perketat ekspor tanah jarang, industri otomotif terdampak

Ilustrasi ekspor mobil (freepik.com/tawatchai07)
Pada April 2025, pemerintah China memperketat ekspor logam tanah jarang dan magnet dengan sistem lisensi baru sebagai respons terhadap tarif impor AS. Akibatnya, banyak produsen otomotif global langsung terdampak. Misalnya, Ford menghentikan sementara produksi Explorer di pabrik Chicago karena keterlambatan pasokan.
Kebijakan ini menunjukkan bahwa China tidak hanya menguasai pasokan, tetapi juga mampu menggunakan logam ini sebagai alat negosiasi dalam tensi dagang internasional. Aturan ini seolah menegaskan kalau China kini memang mengendalikan industri otomotif dunia lewat logam tanah jarang yang mereka kuasai.
4. Implikasi serius bagi industri otomotif global

ilustrasi mobil (pexels.com/Tom Fisk)
Kekurangan pasokan logam tanah jarang menyebabkan beberapa pabrik otomotif di Eropa dan Amerika harus memperlambat produksi, bahkan menghentikan sementara lini perakitan. Produsen seperti BMW dan Volkswagen mulai mempertimbangkan diversifikasi rantai pasok, termasuk relokasi produksi ke dalam wilayah China untuk menghindari embargo.
Namun, langkah ini tetap menempatkan mereka dalam ketergantungan struktural. Sementara itu, para insinyur di Eropa dan Amerika juga mulai mengembangkan motor listrik tanpa logam tanah jarang, meskipun teknologi ini belum siap menggantikan secara penuh.

Leave a Reply